LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA – Kab. Badung

Menjalin Ukhuwah Merajut Kebersamaan

MUNAS LDII VII : “IPTEK dan RELIGI tidak bisa dipisahkan”

Posted by ldiibadung pada 14-Mar-2011


Suatu ketika Louis Althuser seorang filsuf Perancis, dalam tesisnya, mempertanyakan: Sejauh mana keberadaban Barat. DI saat Barat memimpin dalam pencapaian teknologi, di sisi lain kemorosotan moral juga berasal dari Barat. Inilah pertanyaan Althuser dan seluruh umat manusia di dunia, apakah ada kaitan antara moral dan religi.

Menilik problema itu, Indonesia menghadapi problema yang sama, “Sejak zaman Belanda, kolonialisme telah memecah ilmu pengetahuan dari agama,” kata Prof Dr KH Said Aqil Siroj, dalamtausiyah-nya di acara Munas LDII VII di Grha LDII, Surabaya, Jawa Timur.

Akibatnya, juga terasa pada umat Islam di Indonesia. Misalnya, mereka yang profesional tak mengerti ilmu agama, sebaliknya para juru dakwah juga sangat jauh dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini juga membuat umat Islam di seluruh dunia tertinggal dengan Barat,

Dalam tausiyahnya, Said Aqil menceritakan kembali kisah 1400 tahun yang lalu. Bagaimana Rasulullah SAW tumbuh besar dalam budaya Arab yang jahiliyah, saat itu. Nabi Muhammad sejak kecil ditinggal mati oleh ayah, ibu, dan kakeknya. Beliau tidak pernah merasakan pendidikan atau nilai-nilai yang diajarkan oleh keluarganya, namun Allah SWT langsung mendidik Muhammad. Dengan demikian akhlak yang dimiliki Rasulullah SAW adalah akhlak didikan terbaik.

“Inilah peran NU dan LDII saat ini yaitu liyatafaqqohu fiddin – mencari pemahaman terhadap ilmu agama” ujar Said, “dakwah harus dikembangkan dengan liyatafaqqohu fiddin. Bukan hanya dengan doktrin” imbuhnya.

Ketua Umum PBNU tersebut juga menuturkan bahwa LDII silahkan mencari jalan terdekat untuk membangun  potensi bangsa menjadi sosok yang berilmu, beriman, dan berahti tulus. Salah satu hal yang perlu dicari solusinya ialah bagaimana kalangan akademisi dan sarjana bisa memiliki ilmu agama. Sebaliknya santri pondok juga harus dibekali keterampilan. Usaha yang dilakukan bisa dengan membangun SMK di dalam pesantren.

Dakwah juga harus disampaikan dengan baik agar orang akan tertarik dengan Islam. Said mencontohkan bagaimana perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan Islam di Jawa Barat tanpa kekerasan. Salah satu perjuangannya adalah mengamar ma’rufi anak dari Raja Brawijaya V, Raden Fatahillah. Hasilnya, kerajaan Majapahit dan seluruh masyarakat Jawa Barat memeluk agama Islam.

Dalam tausiyahnya, Said berharap NU dan LDII dapat menggalang kerjasama. “Mulai dari ketahanan pangan, deradikalisasi, serta penanggulangan bencana” ujar Said. Kerjasama ini memungkinkan terciptanya masyarakat yang profesional religius, sebagaimana tema Munas LDII VII. (agh)

Sumber : LDII

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: