LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA – Kab. Badung

Menjalin Ukhuwah Merajut Kebersamaan

Artikel: Merubah Kesulitan Menjadi Prestasi

Posted by ldiibadung pada 21-Agu-2010


Bu Arifin bertanya “Gimana ya, anak saya si Erwin baru bisa naik motor kok sudah ngebut di jalan, saya takut ada apa-apa”.

Lain lagi cerita Pak Jono “Uuuh.. si Dodi itu tiap hari berkelahi, ya bilang ngebela si inilah ngebela si itulah dan herannya, kok di nggak kapok-kapok badannya biru-biru karena hasil pembelaan-nya kepada orang lain”.

Kita sering kali terjebak dalam kondisi seperti di atas, yaitu mengeluhkan keadaan yang kita hadapi. Padahal kalau saja kita cermati sebetulnya ada hal positif yang bisa kita lakukan untuk merubah kondisi diatas (Kesulitan/ masalah/ problema) menjadi satu prestasi bagi kita sebagi orang tua dan juga prestasi anak kita sebagai orang yang menjadi sumber masalah.

Saya (penulis) memiliki satu gagasan yang mungkin dianggap gila, gak bener atau apa sajalah. Tapi yang jelas dari setiap hal negatif yang kita alami pasti ada hal positif yang tersembunyi didalamnya.

Anggap saja Erwin dan Dodi adalah contoh dari sumber hal negatif yang anda alami. Dari cerita kita bisa menarik sedikit kesimpulan bahwa kedua orang tua mereka merasa terbebani dengan perilaku anak-anaknya. “BEBAN” itulah yang terlintas di fikiran dua orang tua mereka. Sekarang bagaiman caranya agar ‘Beban ini bisa kita redakan dan dirubah menjadi hal yang membanggakan bagi kedua belah pihak – orang tua maupun anak-anaknya.

Saya akan menyarankan solusi yang lain dalam kasus diatas dengan menggunakan rumus M-T-K-P.

M = Masalah

T = Tantangan

K = Kesempatan

P = Prestasi

Maksud rumus diatas adalah Masalah harus dirubah menjadi Tantangan. tantangan harus dirubah menjadi Kesempatan. kesempatan harus dirubah menjadiPrestasi.

break dulu….. jam 10:11 pagi mau meeting dulu…

Saya teruskan lagi…

Dodi dan Erwin mempunyai kelebihan yang tidka disadari orang tuanya yaitu: “KEBERANIAN” yang jarang dimiliki orang lain, survey mengatakan bahwa kebanyakan orang Amerika (sebagai negara Adidaya) paling “TAKUT” untuk berbicara didepan orang banyak (‘kok aneh ya!’) – tapi jangan anda bayangkan dan bandingkan dengan hebatnya ‘oprah winfrey.

Lalu apa kaitannya dengan kasus diatas: Okelah kalo begitu…..

Keberanian Erwin dan Dodi adalah satu bakat (=talent dalam bahasa inggris) yang harus di anggap ‘Energi postive yang siap diluncurkan. Jadi ini adalah “Tantangan” kita untuk menyalurkannya. Pada Fase inilah,ketika anda menganggap keberanian Erwin dan Dodi adalah Bakat bukan beban maka anda telah merubah pandangan (Paradigma) dari masalah menjadi tantangan.

merubah kesulitan menjadi prestasiAh.. itu kan teori… prakteknya?  ok…ok…baiklah kita kebanyakan teori, mari kita lihat contoh yang nyata; apakah anda pernah mendengar Nick Vujicic-seorang pemuda asal australia yang tidak memiliki kaki dan tangan tapi bisa merubah kekurangannya (cacat) menjadi prestasi yang luar biasa.

Nick adalah direktur Life without limbs, sebuah yayasan non profit yang dimulainya saat usia 17 tahun. Nick bekerja keras di sela-sela masa SMA nya sehingga bisa tamat dengan 2 gelar sarjana Keuangan dan Perencanaan keuangan pada usia 21 tahun.

Saat ini Nick sudah menjadi pembicara motivasi internasional dan telah berbicara kapada lebih dari 3 juta orang di 24 negara di seluruh benua.

Atau anda pernah melihat juara-juara Britain’s got talent seperti Susan Boyle dan Paul pott, yang sangat diremehkan di awal, dan menjadi juara di ajang lomba bakat se inggris raya. Ketiga orang ini adalah contoh-contoh positif manusia yang bisa merubah kesulitan menjadi tantangan dan akhirnya memberi kesempatan berprestasi.

Kembali ke awal pembicaraan kita-setelah kita mampu merubah paradigma 1) Merubah Kesulitan menjadi tantangan mari kita lanjutkan ke langkah 2) Merubah tantangan menjadi kesempatan berprestasi…………. (break lagi-mengisi kelas pelatihan)

Oke kita teruskan dengan langkah ke-2 merubah tantangan menjadi kesempatan.

Seberapa besarkah kita punya kesempatan untuk berbuat satu hal yang besar?– menjadi juara misalnya. Hmmm…. rasanya tidak setiap saat. Nah, kembali tugas kita adalah merubah paradigma tantangan tersebut menjadi kesempatan dengan cara:

  • berfikir ‘POSITIF’ bahwa tantangan ini adalah kesempatan yang langka.
  • membuat pemetaan tantangan tersebut, pilah mana bagian yang merupakan kesempatan/ peluang.
  • ambil bagian kesempatan/ peluang yang tidak semua orang bisa melakukannya tapi kita bisa melakukannya lebih baik.
  • fokus pada peluang yang ada.
  • lakukan ‘sekarang juga! dan mulai dengan rencana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: